Uji Keberanian

Uji Keberanian
Sepulang sekolah, Umar dan Yadi melewati Gedung Budaya. Rupanya ada pameran seni rupa. Di halaman gedung berdiri sekelompok patung tentara yang sedang melangkah dengan kaki kanan diayunkan ke depan. Masing-masing menggendong mayat. Patung-patung itu tampak hidup.
“Pandai sekali perupa ini!” puji Umar.
“Iya, kalau malam hari lewat sini dan orang tidak tahu ada pameran, pasti orang akan sangat terkejut!” kata Yadi sambil tersenyum penuh arti. “Nanti malam aku akan mengajak Pino dan Mul ke sini. Aku suruh mereka berjalan sendiri. Kalau tidak takut, aku akan traktir mereka mie rebus! Kamu ikut saja. Kita saksikan wajah mereka yang pucat dan lari terbirit-birit ketakutan!” Yadi menjelaskan idenya. Dalam hati Umar kurang setuju.
“Maaf, aku tak bisa. Nanti malam aku disuruh Ibu membayar uang arisan ke rumah Tante Eni!” Umar mengelak.
“Ya sudah, aku saja sendiri!” kata Yadi.
Malamnya, Mul dan Pino sudah berada di ujung jalan Gedung Budaya. Suasana jalan itu memang gelap karena tak ada penerangan lampu jalan dan sepi karena pada malam hari jarang dilalui orang dan kendaraan. Namun, di depan Gedung Budaya ada lampu.
“Ini namanya uji keberanian. Tugas kalian hanyalah jalan dari sini ke ujung jalan, lalu kembali lagi. Kalau berhasil, kalian akan kutraktir mie rebus!” kata Yadi. “Jalannya sendiri, bukan berdua!”
“Baik, aku duluan saja!” kata Mul. “Siapa takut?”
“Silakan,” kata Yadi. Hatinya berdebar-debar menantikan adegan lucu yang akan dilihatnya.
Mul melangkah maju. Yadi dan Pino menyaksikannya. Di depan Gedung Budaya tiba-tiba Mul berteriak.
“Tolooong… addaaa… maaa… maaa… yaaat!” Lalu Mul berlari sekencang-kencangnya ke tempat kedua kawannya berada.
Yadi tertawa terbahak-bahak. Wajah Mul pucat dan Pino tampak takut.
“Nah, Pino, sekarang giliranmu. Hadiah ditambah menjadi mie rebus dan segelas kopi susu!” kata Yadi.
“Kamu sendiri berani tidak?” tantang Mul. “Jangan-jangan kamu sendiri juga tidak berani!”
Dengan pongah Yadi menjawab, “Tentu saja aku berani. Aku akan berjalan dan kembali ke sini dengan tenang! Malah di depan gedung aku akan berhenti sejenak!” Yadi melangkah maju.
Di ujung jalan, Mul dan Pino menyaksikan dengan tegang. Yadi berjalan dengan gagah. Sesuai janjinya di depan Gedung Budaya ia berhenti sejenak.
Yadi menggosok-gosok matanya. Di antara para tentara ada sosok pendek sebaya dengan dirinya. Tapi wajahnya, kok, hitam seperti orang utan dan kedua tangannya menggapai-gapai. Sosok itu melangkah maju, semakin jelas kelihatan taringnya yang putih dan ia mengeluarkan bunyi gerrr… gerrr… gerrr.
Jantung Yadi berdegup keras dan tak ayal lagi ia berteriak,
“Hantuuu… hantuuu… hantuuu!”
Mendengar jeritan Yadi, Mul dan Pino lari. Yadi menyusul di belakangnya. Mereka terus berlari sampai di dekat gerobak tukang mie rebus.
“Ada apa?” Tanya tukang mie rebus.
“Ada hantu di depan Gedung Budaya!” Yadi menjelaskan.
“Oooh, di situ memang angker. Lagipula untuk apa kalian ke sana?”
Tukang mie rebus menanggapi, sekaligus bertanya.
“Maksudnya dia ingin menguji keberanian kami. Tidak tahunya dia sendiri juga lari ketakutan!” kata Mul. “Sudahlah, kita makan mie rebus saja, bayar sendiri-sendiri. Aku jadi lapar!”
Ketiga anak itu makan mie rebus. Mie baru saja dihidangkan ketika Umar dating membawa plastik besar.
“Kok, kamu ke sini? Katanya mau antar uang arisan!” Tanya Yadi.
“Iya, rumah Tante Eni, kan, tak begitu jauh dari sini. Sekalian saja aku ke sini. Mau lihat hasil uji keberanian kalian. Sekalian aku yang traktir kalian!” kata Umar.
“Terima kasih, Mar. Terima kasih,” kata anak-anak itu.
“Mar, kamu bawa apa, tuh?” Tanya Pino sambil menunjuk tas plastik hitam yang dibawa Umar.
“Hadiah dari Tante Eni. Dia beli untuk anaknya, tapi anaknya ternyata takut sama topeng ini!” kata Umar dan ia mengeluarkan topeng wajah monyet yang sedang menyeringai. Umar memandang Yadi penuh arti dan Yadi tersenyum kecut.

Leave a Comment