Cerpen: Pemilihan Ketua Kelas

TAHUN ajaran baru telah tiba.  Amira dan teman-temannya di kelas tiga SD Puren, Sleman, Yogyakarta, sedang asyik mengobrol.
Setelah bel masuk berbunyi, Pak Guru Agus masuk ke ruangan.  “Selamat pagi anak-anak!” sapa Pak Agus.
“Selamat pagi, Pak!” balas murid-muridnya kompak.
Pak Agus lalu berkata, “Di kelas tiga ini, Bapak adalah wali kelas kalian. Untuk membantu tugas Bapak mengelola kelas ini, Bapak membutuhkan seorang ketua kelas. Nah, kalian sendiri yang akan memilih ketua kelas baru.”
Murid-murid kelas tiga, termasuk Amira saling  berpandangan. Sebelumnya saat mereka masih  kelas satu dan kelas dua, wali kelas langsung menunjuk seorang anak menjadi ketua kelas.
“Kira-kira siapa yang ingin kalian usulkan jadi calon ketua kelas?” tanya Pak Agus. Anak-anak mulai riuh saling tunjuk temannya.
“Anak-anak, jika ingin usul, silakan angkat tangan terlebih dahulu!”
Akbar lalu mengangkat tangan. Pak Agus menyilakan Akbar menyebut nama usulannya. “Deni, Pak!” kata Akbar.
Bunga mengangkat tangan. “Amira, Pak!”
Mendengar namanya disebut, Amira sedikit terkejut. Hatinya berdebar.
“Galang, Pak!” usul Jaka.
“Baiklah,  jika sudah tidak ada lagi,  Bapak akan menanyakan kesediaan teman kalian, yang sudah kalian tunjuk,” ujar Pak Agus.
Ternyata Deni, Amira, dan Galang, tidak ada yang menolak dicalonkan menjadi ketua kelas.
“Kalau begitu kita putuskan ada tiga calon. Deni, Amira, dan Galang.”
Pak Agus lalu membuat kolom di papan tulis berisi nama calon. Kemudian Beliau membagikan secarik kertas kecil untuk semua murid.
“Silakan kalian tulis angka 1, angka 2, atau angka 3, sesuai calon yang ingin kalian pilih. Nomornya, 1 untuk Deni, 2 untuk Amira, dan 3 untuk Galang. “
Murid-murid lalu menentukan pilihan masing-masing. Setelah menulis angka di kertas, satu per satu mereka maju ke depan kelas memasukkan kertas ke dalam kardus.
“Baiklah, mari sekarang kita mulai penghitungan suara!” Pak Agus membuka kertas satu demi satu. Setelah dibuka, dibacakan, dan ditunjukkan di depan kelas, Pak Agus mencatatnya di papan tulis. Setelah habis, Pak Agus menghitung perolehan suara masing-masing calon.
“Anak-anak, hari ini kita belajar memilih ketua kelas secara langsung. Semua berhak menentukan pilihannya masing-masing. Meski berbeda pilihan, kita harus saling menghormati. Dari sini kita belajar untuk tidak memaksakan kehendak dan mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama. Kalian mengerti?”
“Ya Pak!”
“Sekarang Bapak umumkan, yang mendapat suara terbanyak adalah Amira. Jadi Amira adalah ketua kelas tiga yang baru.” Pak Agus bertepuk tangan diikuti oleh semua murid. Amira tersenyum. Dalam hati ia berjanji akan menjadi ketua kelas yang adil. *
Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Himatul Ulya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 22 April 2018

Leave a Comment