Cirela dan Sepatu Bata

Cirela adalah anak bungsu dari empat bersaudar. Kakak-kakak Cirela bernama Cikuni, Cimera, dan Cibiru. Ketiga kakak Cirela tidak menyukai adik bungsu mereka. Mereka merasa Pak Gae dan Bu Gae, orang tua mereka, lebih sayang pada Cirela. Sebenarnya tidak demikian, Cirela sering sekali sakit. Itu sebabnya Pak Gae dan Bu Gae merasa perlu memberi perhatian lebih padanya.
Pak Gae adalah seorang ilmuwan. Pekerjaannya sehari-hari menciptakan segala macam alat yang unik. Ciptaan Pak Gae yang paling baru adalah sepatu serba guna. Pak Gae menciptakan sepatu itu untuk persiapan lomba lari tahunan di negerinya.
Hampir semua pria di kota itu mengikuti lomba lari tahunan. Itu bukan lomba sembarang lomba. Di sanalah segala macam sepatu canggih dipamerkan. Ada sepatu yang bisa memantul-mantul, bertenaga jet, dan segala macam sepatu penemuan baru yang aneh-aneh.
Pak Gae tak pernah ketinggalan mengikutsertakan ciptaannya. Sepatu ciptaannya selalu tampil lebih hebat dari ciptaan penemu lain. Setiap tahun semua orang penasaran, sepatu seperti apa lagi yang diciptakan Pak Gae?
Tahun ini Pak Gae telah bekerja lebih keras. Tahun lalu ia membuat tiga pasang sepatu. Namun tahun ini ia membuat empat pasang. Cirela anak bungsunya telah cukup umur untuk mengikuti lomba. Meskipun Cirela sakit-sakitan, Pak Gae memberinya semangat. Sepatu ciptaannya yang canggih bisa diandalkan untuk menutupi kelemahan Cirela.
Cikuni, Cibiru, dan Cimera tidak suka Cirela ikut lomba lari.
“Tidur saja sana, minta digendong Ibu!” bentak Cimera marah.
“Huh, apa kau kira ini seperti lomba minum susu?” ejek Cibiru.
“Hei, jangan jahat pada Cirela! Ayo kita ajak dia latihan!” Cikuni berlagak manis di depan Cirela.
Sebenarnya Cikuni punya rencana jahat. Ia telah mematikan fungsi canggih sepatu Cirela. Sepatu itu pun menjadi sepatu biasa. Cikuni juga memasukkan lempengan besi di dalamnya sehingga sepatu itu menjadi berat.
Mereka mengajak Cirela berlatih lari dengan sepatu baru. Cimera langsung memamerkan gaya berselancar di bebatuan. Cibiru bersalto tak kenal lelah. Cikuni bisa memanjat dinding seperti cicak. Akan tetapi Cirela cuma bisa terengah-engah mengangkat sepatunya. Ketiga kakaknya tertawa geli.
“Kenapa sepatuku berat sekali?” Tanya Cirela heran.
“Itu disebut sepatu bata. Sepatu pemula memang harus berat seperti batu bata,” jawab Cikuni.
Cirela percaya meskipun ketiga kakaknya tertawa semakin keras. Ia ingin seperti kakak-kakaknya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menggerakkan sepatunya. Tak putus asa ia melatih kakinya yang lemah.
Setiap hari Cirela ikut latihan lari bersama ketiga kakaknya. Setiap hari juga ia berlatih dengan sepatunya yang seberat batu bata. Melihat Cirela mulai terbiasa dengan sepatu itu, Cimera diam-diam menambah lempengan besi di sepatu adiknya. Sepatu Cirela menjadi semakin berat. Namun Cirela tetap giat berlatih, diiringi tawa ketiga kakaknya.
Hari perlombaan pun akhirnya tiba. Cirela masih tertatih-tatih dengan sepatunya. “Memalukan kalau Cirela ikut lomba!” sungut Cimera.
“Biar saja dia ikut. Biar Ayah tahu akibat memanjakan anak kesayangannya!” bisik Cikuni.
Pak Gae dan istrinya mengantar keempat anaknya.
“Lomba kali ini agak berbeda dengan tahun lalu. Hadiahnya juga jauh lebih besar dari lomba tahun lalu,” kata panitia lomba lewat pengeras suara. “Pemenang lomba tahun ini harus benar-benar pelari yang hebat! Untuk itu, panitia telah menyediakan sepatu yang sama untuk semua peserta.”
Semua peserta saling pandang heran. Dengan berat hati mereka mengganti sepatu canggih mereka dengan sepatu biasa yang disediakan panitia.
Lomba lari dimulai. Penonton agak kecewa karena tak jadi melihat atraksi sepatu-sepatu canggih. Namun mereka lalu ramai dan tertawa geli melihat gaya para peserta lomba. Ada yang berjingkat-jingkat, ada yang menangis kesakitan, ada yang terguling-guling. Lomba lari berubah menjadi sirkus lucu. Itu karena banyak pelari yang selama ini hanya mengandalkan kecanggihan sepatunya. Kaki-kaki mereka jadi tidak sehat dan rapuh.
Hanya Cirela yang berbeda! Ia telah terbiasa berlatih dengan sepatu seberat batu bata. Kini ia berlomba dengan sepatu biasa yang sangat ringan. Cirela berlari sangat kencang. Ia berhasil meninggalkan semua peserta lain. Para penonton mengelu-elukannya. Cirela sampai di garis finish sendirian.
“Hebat, hebat! Siapa yang melatihmu hingga kau hebat begini?” Tanya panitia lomba.
“Ketiga kakakku. Cikuni, Cimera dan Cibiru. Mereka melatihku menggunakan sepatu batu bata!” jawab Cirela.
Pak Gae dan istrinya menangis karena haru. Cikuni, Cimera, dan Cibiru malu sekali. Mereka telah berbuat jahat, namun Cirela malah menganggap mereka sebagai pelatih. Akhirnya mereka minta maaf dan berpelukan. Cikuni, Cimera, dan Cibiru berjanji akan berlatih lari seperti cara Cirela berlatih selama ini. Mereka juga akan memakai sepatu seberat batu bata. Sepatu canggih hanya mereka pakai untuk bermain-main.

Leave a Comment