Belajar dari Ibu Burung

TAK seperti biasanya. Hari ini, sepulang sekolah Clarissa tak langsung mengerjakan tugas. Ia juga tak bergegas makan siang. Bahkan Clarissa tak mengganti seragam sekolahnya. Begitu masuk rumah, Clarissa bergegas menuju kamar tanpa berkata sepatah kata pun kepada ayah, ibu, dan adiknya. Sepanjang hari Clarissa hanya berdiam diri di dalam kamar.
Ternyata hal itu dilakukan Clarissa bukan tanpa sebab. Ia melakukannya karena tak  terima ibu memarahinya. Menurut Clarissa, dirinya tak bersalah tapi ia malah dimarahi. Maka dari itu, Clarissa lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar.
Seperti biasa. Sepulang sekolah, Clarissa dijemput oleh ibu dengan mobil. Di dalamnya sudah ada Cindy, adik Clarissa. Ia pun melambaikan tangan dan melempar senyum manisnya kepada Clarissa.
“Kakaaak!”
Clarissa pun membalas sapaan Si Adik dengan pelukan dan kecupan manis di dahinya.
Cindy yang masih belajar di TK tentu pulang lebih cepat dibandingkan Clarissa yang sudah duduk di kelas 2 SD. Karena itu, Cindy akan dijemput lebih dahulu oleh ibu baru kemudian Clarissa.
Setelah masuk ke dalam mobil dan turut duduk dengan manis di sebelah adiknya, Clarissa dan Cindy tanpa disadari serentak bersorak.
“Ayo, Bu. Capcuuuss!”
Mendengar permintaan lucu dari sang anak, ibu pun langsung menancapkan kaki ke pedal gas mobilnya. Mobil pun berjalan meninggalkan sekolah Clarissa.
“Hahaha. Iya…iyaaa.”
Jarak rumah Clarissa dengan sekolah cukup jauh. Butuh waktu setengah jam perjalanan. Itu pun sudah ditempuh dengan mobil. Karena itu di tengah perjalanan, Clarissa dan Cindy akan melihat banyak hal. Mulai dari berbagai jenis kendaraan, berbagai jenis toko, dan beragam jenis jajanan. Parahnya, setiap kali melihat jajanan, Clarissa dan Cindy akan kompak membujuk ibu agar mau membelikannya untuk mereka.
Namun ibu bukan sosok yang mudah dibujuk, terutama perihal jajan di pinggir jalan. Ibu selalu melarang Clarissa dan Cindy membeli jajanan seperti itu. Menurut ibu, banyak hal yang membuat makanan tersebut tidak sehat. Mulai dari tidak higienis hingga tidak jelasnya bahan yang digunakan.
Tapi ada satu jajanan yang tidak bisa ditolak ibu jika Clarissa dan Cindy memintanya, yaitu satai telur gulung Inyik Taher. Ibu sangat tahu betapa higienis dan sehatnya makanan yang dibuat oleh Inyik Taher. Karena itu, ibu tak akan melarang mereka memintanya.
Begitu pula dengan hari ini. Clarissa dan Cindy meminta ibu membelikan mereka satai telur gulung Inyik Taher. Mereka pun mendapat bagian masing-masing 1 kotak besar. Satai telur gulung itu mereka cicipi satu per satu sembari menikmati perjalanan pulang.
Tak berapa lama. Tiba-tiba Cindy menarik-narik lengan baju kakaknya dan berkata.
“Kak…kak. Minta punya kakak, dong!”
Clarissa yang terkejut mengetahui Cindy sudah menghabiskan jajanannya begitu cepat langsung menolak permintaan Sang Adik.
“Gak mau! Punyamu kan sudah habis. Jatah kakak jangan diminta juga, dong.”
Mendengar bentakan dan penolakan dari Sang Kakak, Cindy pun terdiam. Tak berapa lama, Cindy akhirnya menangis dengan suara yang begitu keras.
“Huaaaa…Ibuuu..ibuuu. Kakak jahat, Bu. Huaaaa.”
Demi menenangkan Cindy, Ibu meminta Clarissa mengalah kepada adiknya.
“Cla…ayo kasih adik setusuk. Masa kakak tega nengok adiknya nangis?”
Luluh dengan bujukan Sang Ibu, Clarissa pun mengalah, “Iya…iya…iyaaa. Ini kamu boleh ambil satu tusuk.”
Setelah melahap satu tusuk satai telur gulung Si Kakak, tangisan Cindy berangsur-angsur berhenti. Namun tak berapa lama setelah menghabiskan satai telur gulung pemberian kakaknya tadi, Cindy kembali meminta jatah kakaknya.
“Kak…Cindy mau lagi!”
Meski mulai kesal, Clarissa tetap mencoba bersabar dengan tingkah adiknya.
“Iya, iya. Nih.”
Ternyata tak berhenti di situ. Cindy melakukan hal yang sama berulang-ulang. Hingga akhirnya Clarissa benar-benar marah. Mereka pun mulai beradu mulut.
“Ah, kamu kok gitu!”
“Satu lagi aja, Kak.”
“Dari tadi juga gitu. Satu lagi, kak. Satu lagi, kak.”
“Huaaaa…Buuuu….Kakak jahaaaat!”
Mendengar pertengkaran anak-anaknya, ibu kini menasihati keduanya.
“Cindy gak boleh gitu, sayang. Jatahnya Cindy dan kakak itu sama banyak, loh. Kakak juga udah ngasih tambahan buat Cindy. Masa Cindy minta lagi?”
“Clarissa juga. Udah tahu adiknya doyan. Makannya jangan dipelan-pelanin. Entar yang susah kamu juga. Sekarang kasih dulu aja semua buat Cindy. Besok kita beli lagi.”
Clarissa pun memberikan semua jatah telur gulungnya kepada Cindy. Dengan bersungut-sungut, Clarissa menatapi adiknya yang begitu lahap menyantap jajanan miliknya. Semakin ditengoknya Sang Adik semakin merungut hatinya. Hingga tiba-tiba.
Plak!
Clarissa menumpahkan seluruh satai telur gulung yang ia berikan kepada Cindy. Cindy pun menangis sejadi-jadinya. Kaget mengetahui hal tersebut, ibu pun menepikan mobil ke pinggir jalan sontak memarahi Clarissa.
“Astagfirullah, Clarissa! Siapa yang ngajarin kamu berbuat seperti itu!”
Clarissa hanya diam membisu.
“Kamu sudah keterlaluan. Kamu harus minta maaf sama Cindy. Ibu gak mau anak ibu jadi anak yang jahat seperti ini. Pokoknya ibu gak mau tahu. Sampai kamu mau minta maaf sama Cindy, ibu gak akan ngasih kamu uang jajan.”
Hingga sampai di rumah pun, Clarissa tak kunjung meminta maaf kepada adiknya. Ia lebih memilih diam dan mengunci diri di dalam kamar.
Beberapa jam kemudian. Clarissa mulai merasa bosan. Ia ingin sekali pergi ke luar rumah untuk bermain dengan teman-temannya. Namun jika ia ingin bermain ke luar rumah, tentu ia harus minta izin dahulu kepada ibu. Sedangkan saat ini ia masih marah dengan ibunya.
Tak berapa lama. Dari jendela kamarnya, ia melihat seekor burung mondar-mandir di sebuah pohon. Clarissa pun mendongakkan wajahnya ke luar jendela agar dapat melihat burung tersebut lebih dekat. Dari sana ia dapat melihat dengan jelas, seekor ibu burung mondar-mandir di sebuah pohon untuk merajut sarangnya.
Tak cukup sampai di situ. Ia juga melihat Sang Ibu Burung mengais-ngais tanah untuk mengambil beberapa ekor cacing. Namun ia tak melihat ibu burung tersebut memakan cacing buruannya. Setelah mengumpulkan cukup banyak, Si Ibu Burung mengangkut cacing-caing itu ke sarangnya.
Ternyata, di dalam sarang itu ada beberapa anak burung yang masih tanpa bulu memekik-mekik tidak keruan. Lalu Sang Induk menyuapi satu per satu anaknya dengan cacing yang telah ia kumpulkan tadi.
Lagi-lagi, Clarissa belum melihat ibu burung tersebut memakan buruannya. Hingga cacing itu habis, barulah Sang Ibu Burung tersebut terbang jauh entah kemana. Clarissa tak lagi bisa melihat keberadaannya.
Untuk beberapa saat, Clarissa termenung akan sesuatu yang dilihatnya tadi. Ia merasa sangat bersalah telah marah kepada ibunya. Ia boleh tak dapat menghabiskan satai telur gulung miliknya karena terus saja dimintai oleh adiknya, Cindy.
Namun ia tak sadar, jangankan untuk menghabiskan, untuk menyicipi satu tusuk satai telur gulung saja ibunya tak bisa. Ia pun berlari menemui ibunya. Sembari mengeluarkan air mata Clarissa berujar.
“Bu, Clarissa minta maaf. Clarissa sudah melawan sama, Ibu. Clarissa salah, Bu. Padahal ibu sudah banyak mengalah untuk Clarissa.”
Sambil memeluk Clarissa, ibu pun berkata. “Sudah…sudah. Sekarang anak ibu mandi yang bersih, salat, beres-beres lalu kita berangkat makan malam. Ayah sudah menunggu.”
Mendengar ibu mengucapkan kata “Ayah”. Dari dalam kamar Cindy pun bersorak.
“Ayah sudah pulang ya, Bu?”
Clarissa dan ibu pun tertawa.
Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Vendo Olvalanda S
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu 4 Februari 2018

Leave a Comment