Kue-kue Emak

PERNAHKAH kalian membayangkan makan kue setiap hari? Kue dengan berbagai macam rasa. Pasti sungguh enak dan nikmat makan kue-kue itu. Tapi tidak dengan Nia. Nia hanya bisa melihat dan membayangkan. Membayangkan makan kue-kue setiap saat. Apalagi Nia hanya tahu namanya. Tapi tidak tahu bagaimana rasanya. Ada kue yang bentuknya bulat kulit seperti dikerubuti semut. Kata Emak itu namanya onde-onde.
Lalu ada yang bentuknya seperti ban sepeda. Bulat tapi lubang tengah dengan taburan gula-gula atau cokelat dan keju. Namanya donat. Ada kue yang warna-warni seperti pelangi yang menurut Emak itu namanya kue lapis. Ada bolu keju, pisang molen dan berbagai macam kue lainnya. Hanya sesekali Nia bisa makan kue. Itu pun hanya pisang goreng sisa jualan Emak.
Nia hanya bisa menelan air liurnya jika ingin mencicipi kue-kue tersebut. Karena makan artinya dia harus bayar. Karena itu bukan kue jualan Emak Nia sendiri. Melainkan milik Bu Haji dan Emak hanya mengambil upah sedikit dari hasil jualan tersebut.
Tiap pagi Emak selalu pergi ke rumah Bu Haji untuk mengambil kue-kue. Setelah itu Emak akan keliling kompleks atau bahkan ke sekolah-sekolah. Jika libur sekolah, Nia membantu ikut jualan kue. Nia membantu Emak berjualan kue di lapangan. Karena kalau hari libur, di lapangan banyak anak-anak bermain. Jadi semua dagangan Emak akan cepat habis. Pernah Nia menanyakan pada Emak, kenapa tidak buat kue sendiri dan menjualnya.
“Dari mana kita dapat uang buat beli bahan. Lagi pula Emak tidak tahu cara buatnya,” ujar Emak saat itu.
“Emak bisa minta resepnya sama Bu Haji,” usul Nia kala itu.
“Tentu saja tidak, Nia. Tidak enak sama Bu Haji. Apalagi Bu Haji sudah baik sama Emak.”
“Tapi Nia kasihan sama Emak. Tiap hari jualan kue, tapi upahnya sedikit. Padahal semua kue-kue itu selalu habis terjual,” kata Nia ngotot.
Emak hanya tersenyum dan mengacak poninya.
“Emak, bahan-bahan untuk membuat kue itu biasanya terbuat dari apa, sih?” tanya Nia.
“Dari tepung, mentega, telur, dan banyak lagi bahan-bahan lainnya,” ujar Emak.
Keesokan harinya Nia ke rumah Bu Haji. Nia bilang pada Bu Haji ingin membantunya bikin kue sekaligus ingin belajar. Tapi Bu Haji malah menyuruhnya ke toko. Nia diminta untuk beli bahan-bahan kue. Berbekal catatan yang Bu Haji berikan, dengan cakatan Nia ke toko. Membeli semua bahan kue sesuai dengan pesanan Bu Haji.
Ada telur, tepung, gula, mentega, cokelat, vanili, dan beberapa bahan lainnya. Setelah semua selesai, Nia menyerahkan hasil belanjaan pada Bu Haji. Bu Haji memberi Nia duit sepuluh ribu sebagai imbalan. Tapi Nia tidak diperbolehkan membantu memasak dan bikin kue. Katanya sudah ada bagian yang masak. Gagal sudah rencana Nia untuk belajar bagaimana caranya membuat kue.
Saat menuju pulang, Nia bertemu dengan Tita teman sekolahnya. Nia melihat Tita habis membeli tepung dan telur.
“Kamu mau buat kue, ya?” tanya Nia melihat barang belanjaan Tita.
“Iya. Ibu mau buat pisang goreng.”
“Wah, pasti pisang gorengnya enak. Boleh ikut? Nia ingin tahu bagaimana caranya buat pisang goreng,” pinta Nia.
Tita mengangguk. Nia ikut bersama Tita ke rumahnya. Sampai di rumah, Tita menjelaskan pada ibu tentang keinginan Nia. Ibu Tita memperbolehkan Nia ikut membantu bersama Tita. Saat ibu Tita mencampur adonan untuk bahan pisang goreng, Nia melihatnya. Ternyata sangat gampang. Tepung, telur, gula, dan sedikit garam. Setelah itu baru pisang dimasukkan kemudian di goreng. Nia jadi semangat membantunya.
Saat ibu Tita menyuruhnya mencicipi pisang goreng, rasanya enak sekali. Rasanya tidak sama seperti jualan Emak milik Bu Haji. Pisang goreng buatan ibu Tita lebih gurih.
“Tante, kalau uang sepuluh ribu, bisa tidak beli bahan-bahan buat pisang goreng,” celetuk Nia tiba-tiba.
“Pasti bisa, Nia. Apa Nia mau buat pisang goreng juga?” tebak ibu Tita yang membuat Nia tersipu malu. “Ini ada sisa pisang dan tepung, bisa Nia bawa pulang. Nanti coba masak di rumah,” lanjut ibu Tita lagi.
Dengan perasaan senang, Nia pulang membawa pemberian ibu Tita. Nia akan buat pisang goreng buat Emak. Setelah itu, Nia akan minta Emak buat pisang goreng sendiri. Kemudian menjualnya. Nia yakin, pisang goreng buatan Emak pasti akan laris. Apalagi resepnya Nia dapatkan dari ibu Tita yang tadi sempat Nia cicipi.
Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Alby Syafie
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Sabtu, 10 Februari 2018

Leave a Comment