Bukan Pilih Kasih

BU Herna sedang bingung. Darwin, putra bungsunya, akhir-akhir ini terkesan aneh. Dia menjadi suka marah-marah tanpa sebab yang jelas. Hal sepele saja membuatnya kesal dan merajuk. Bu Herna mencoba menebak, ada apa gerangan?
Darwin punya satu gadget untuk bermain game. Dua minggu lalu, gadget tersebut tak dapat digunakan karena rusak. Bu Herna berjanji memperbaiki gadget Darwin, tapi sampai dua minggu janji itu belum juga ditepati.
“Ma, belikan aku gadget yang baru saja,” pinta Darwin berharap. Selama dua minggu tidak bermain game, membuatnya bosan.
“Janganlah, Mama akan suruh teknisi memperbaikinya.”
“Tapi kapan, Ma? Aku bosan sekali sudah dua minggu tak ada kerjaan,” keluh Darwin.
“Ya kamu belajarlah, Win. Kan sebentar lagi ujian semester. Kebetulan tabletmu rusak, tangguhkan saja memperbaikinya. Dengan demikian, kamu punya banyak waktu untuk belajar,” kata Bu Herna.
Darwin melengos kesal. Dalam hati dia merasa mamanya tak adil. Untuk Elwin, abangnya Darwin, selalu dibelikan barang baru. Laptop baru, tablet baru, sampai ke HP Android baru. Sedangkan untuknya, selalu menerima barang bekas pakai dari abangnya. Bahkan baju seragam sekolah pun harus memakai bekas seragamnya Elwin. Karena tak dibelikan gadget baru dan gadget lamanya belum diperbaiki, Darwin menjadi uring-uringan. Bu Herna yang mulai mengerti kekesalan putra bungsunya itu, belum juga berniat membelikan yang baru. Dia berharap, Darwin bisa menggunakan waktunya yang sebelumnya bermain gameuntuk belajar. Bukankah beberapa hari lagi ujian semester?
Dua hari menjelang ujian, Darwin masih belum bersemangat belajar. Pikirannya terus melayang pada gadget-nya yang rusak dan keinginan untuk memiliki gadgetbaru.
Sore itu, Darwin berjalan ke kamarnya dan membuka lemari baju. Di bawah lemari baju itu dia menaruh celengan berisi duit yang disisihkannya dari uang jajan. Dibongkarnya celengan itu dan menghitung duit yang ada. Wah, lumayan, ternyata hampir lima ratus ribu rupiah tabungannya selama setahun.
Dengan tergesa-gesa, Darwin mengumpulkan uang kertas yang berserak di lantai. Diikatnya menjadi satu dan diselipkannya ke dalam saku celana. Dia berencana pergi ke kios ponsel yang terletak di ujung gang untuk membeli gadget baru. Gadget itu bisa digunakannya untuk bermain game.
Bu Herna curiga melihat putra bungsunya berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah sambil memegang saku celana. Beliau mengikuti langkah Darwin dari belakang. Ternyata tujuan Darwin adalah kios ponsel yang terletak di ujung gang.
Bu Herna melihat Darwin meminta penjaga kios mengeluarkan HP Android yang ditunjuknya. Melihat-lihatnya dan berbicara dengan penjaga kios. Tampaknya, Darwin sedang tawar-menawar harga dengan penjaga kios.
Dengan langkah perlahan, Bu Herna mendekati Darwin dan menepuk pundaknya dari belakang. “Darwin, ngapain kamu di sini? Ayo kita pulang!”
“Ma, aku lagi mau beli HP,” kata Darwin.
“Nanti Mama belikan, tapi jangan sekarang. Nanti, Darwin, setelah kamu menyelesaikan ujianmu di sekolah akan Mama belikan yang baru.”
“Tapi…”
“Ayo kita pulang!” tanpa menunggu Darwin menyelesaikan ucapannya, Bu Herna menarik tangan Darwin sambil meminta maaf pada penjaga kios ponsel.
Sesampainya di rumah, Bu Herna memberi penjelasan pada Darwin. Dia bukan tidak mau membelikan Darwin gadget baru, tapi tunggu sampai ujian selesai.
“Mama selalu pilih kasih. Untuk Bang Elwin, apa pun yang diminta langsung dibelikan. Semua yang baru. Mulai dari laptop, tablet, sampai HP,” kata Darwin hampir menangis.
“Mama tidak pilih kasih, Darwin,” kata Bu Herna. “Mama membelikan abangmu semua itu karena dia sudah kuliah dan membutuhkan barang-barang itu untuk keperluan kuliahnya. Sedangkan kamu kan masih kelas VI SD dan menggunakan tablet hanya untuk bermain game.”
“Itukah alasannya, Ma?” tanya Darwin tak jadi menangis.
“Iya, Darwin, itu alasan Mama,” jelas Bu Herna.
Darwin menunduk. Dia tak bersikeras lagi memaksa mamanya membelikan gadgetbaru. Dia hanya berharap, mamanya akan menepati janji, membelikannya gadgetbaru setelah dia menyelesaikan ujiannya di sekolah.
Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Rosni Lim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Sabtu, 24 Februari 2018

Leave a Comment